Sekitar 82 tahun yang lalu, para pemuda mewakili bangsa Indonesia besumpah dan berjanji akan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional untuk pemersatu nusantara yang terdiri dari berbagai ragam budaya, bahasa, suku dan ras. Tujuannya adalah agar bangsa Indonesia mempunyai identitas sendiri yang perlu diperhitungkan di dunia luar.
Namun, bersama berjalannya waktu bahasa indonesia mulai mengalami pergeseran, masyarakat secara umum dan para remaja secara khusus, lebih suka menggunakan bahasa-bahasa atau istilah-istilah daerah dalam percakapan sehari-hari. Di Jakarta contohnya, kita akan mendapati bahasa-bahasa atau istilah-istilah gaul yang bertentangan dengan kaedah bahasa indonesia, dan kalaupun ada yang berusaha untuk berbahasa yang benar dia dianggap kuno, jadul atau ndeso.
Media, baik cetak maupun elektronik juga ikut - ikutan "mempromosikan" bahasa/istilah tersebut, baik dalam iklan, film, ataupun sinetron yang mereka tayangkan, bahkan sebagian acara berita yang pada awalnya menggunakan ejaan yang benar mulai terpengaruh oleh situasi di sekelilingnya dan mulai menggunakan bahasa dan istilah yang berkembang di masyarakat.
Ironisnya lagi, sekolah yang natabene sebagai lembaga pendidikan resmi yang ada du negara ini, juga mulai menggunakan bahasa yang kurang tepat ketika menerangkan pelajaran kepada para siswa, termasuk guru bahasa Indonesia itu sendiri.
Mungkin sekarang ini kita hanya dapat mendengarkan bahasa-bahasa yang ejaannya benar dalam pidato-pidato resmi yang telah terkonsep rapi, ataupun kita hanya akan mendapatkannya dalam buku-buku sekolah dan buku-buku cetak lainnya.
Beginilah wajah bangsa kita saat ini, mereka lebih suka menggunakan bahasa dan istilah yang kurang tepat secara kaedah bahasa Indonesia ataupun lebih suka menggunakan istilah-istilah asing dalam percakapan sehari-hari.
Ini adalah tantangan besar yang harus kita hadapi, jangan sampai anak cucu kita nanti tidak tahu lagi bagaimana berbahasa indonesia yang benar, dan kita harus menjadikan bahasa indonesia sebagai tuan rumah di negeri yang kita cintai ini.
Bahasa Indonesia Asing di Negeri Sendiri
Diposting oleh
Admin
on Jumat, 15 Januari 2010
Label:
Artikel

0 komentar:
Posting Komentar