Memang dunia ini penuh misteri dan sulit ditebak. semua apa yang telah direncanakan sedemikian rapinya, seringkali berubah dalam perjalanan, apalagi akhir dari usaha tersebut, jauh dari harapan.
Entah dunia ini memang kejam seperti prasangka kebanyakan orang, atau dunia ini guru yang baik, yang senantiasa mengajari manusia untuk bersabar.
Apakah manusia dapat dikatakan sombong jika ingin menentukan pilihan yang dianggap baik untuk dirinya, mendambakan sesuatu yang dapat membuatnya senang dan bahagia, salahkah ia meminta harapan itu kepada tuhan yang telah menciptakan alam raya ini?
Mengapa harapan itu belum juga terwujud, padahal segala usaha telah dilakukan...
Apakah manuasia dapat dikatakann seorang yang egois, padahal yang ia usahakan bukanlah semata-mata untuk dirinya, melainkan juga untuk orang-orang disekitarnya, untuk orang-orang yang telah menaruh harapan padanya, yang mempercayakan kebahagiaan padanya.
Tuhan ajarkanlah cara berdo'a yang baik yang kau inginkan, hingga permintaan hambamu dapat kau kabulkan ....
Cinta Abadi
Engkau takkan pernah tahu
Betapa besarnya rasa
cintaku
Cinta yang mengalir di
setiap aliran darahku
Berdetak di setipa denyut
jantungku.
Engakau mungkin juga
takkan merasa
Betapa besarnya rasa
sayang ini di dada
Tak terwakili kata-kata
Tak terlihat pandangan
mata
Apakah pernah kau
menyangka
Kecintaan ini berpadu
setia
Bukan sekedar senyuman
saja
Tap dengan segenap jiwa
Memang jalan taklah
selamanya mulus
Tapi akan kujalani dengan
tulus
Seperti jlinan cinta kita
yang takkan pernah putus
Abadi hingga di surga
Firdaus
Suara hati
Kuharap hujan kan turun
Menyirami tanaman yang kian layu
Hujan yang akan mengguyur
Hanah-tanah yang kian kering
Dalam sabar ku slalu berharap
Setetes air yang membawa asa
Membawa angin keidupan
Berhembus dalam damai
Tapi yang kudapatkan lain
Badai yang kencang
Dan topan yang menghempas
Bukannya menyuburkan tanamanku
Malah mematahkan bunga-bunga
Yang semakin layu dan tak berdaya
Hujan bukan badai..
Angin bukan topan..
Ku tak berharap sesuatu
Yang membuat tanamanku
Semakin layu dan hancur..
Menyirami tanaman yang kian layu
Hujan yang akan mengguyur
Hanah-tanah yang kian kering
Dalam sabar ku slalu berharap
Setetes air yang membawa asa
Membawa angin keidupan
Berhembus dalam damai
Tapi yang kudapatkan lain
Badai yang kencang
Dan topan yang menghempas
Bukannya menyuburkan tanamanku
Malah mematahkan bunga-bunga
Yang semakin layu dan tak berdaya
Hujan bukan badai..
Angin bukan topan..
Ku tak berharap sesuatu
Yang membuat tanamanku
Semakin layu dan hancur..
Emosi
Suatu hari nanti
Aku pasti ‘kan pergi
Meninggalkan ketidak
adilan ini
Tuk mencari kedamaian hati
Tak usah kau cari lagi
Aku takkan pernah kembali
Salam itu, salam terakhir
kali
Salam yang penuh emosi
Rumput bergoyang
Lihatlah rumput itu
bergoyang
Setiap angin bertiup
kencang
Semakin cepat pula ia
bergoyang
Tumbuh subur di tengah
padang
Wahai rumput ...
Bisakah kau diam untuk
sejenak
Tak usah bimbang ucapan
orang banyak
Tak usah takut terjangan
badai
Niscaya engkau semakin
dihargai
Lihatlah kamu kini
Sedap dipandang, tapi tak
mampu berdiri
Engkau selalu bergoyang
kekanan dan ke kiri
Engkau ikuti orang-orang
yang penuh ambisi
Sadarlah ...
Di sini kau tak sendiri
Lihatlah pohon-pohon
tinggi
Yang selalu menawarkan
diri
Tempat yang nyaman ‘tuk
bersandar diri
Mari dengarkan kami
Kata-tata tulus dari hati
Pegang tangan ini
Engkau akan kuat bersama
kami
Jangan dengarkan mereka
Hiduplah dengan merdeka
