Mengapa mendung itu masih ada di sini
Padahal tadi pagi masih kulihat senyum mentari
Seakan memberiku kehangatan dan harapan
Semoga hari ini lebih baik bagi kehidupan
Sekarang gerimis mulai turun
Membasahi jalanan dan daun-daun
Akupun berlari semakain jauh
Dan kupilih rumah ini tempat berteduh
Ada harapan baru di sini
Setidaknya aku terlindung dari hujan yang terus membasahi bumi
Ternyata disini tidaklah seperti yang kukira
Rumah ini atapnya bocor dan tidak berjendela
Hingga gelapnya awan masih dapat kulihat
Dan suara petir terdengar besahutan diiringi kilat
Dalam hati aku berkata
Harapanku kembali hampa
Ternyata senyuman itu hanyalah fatamorgana
Lambaian itu ternyata sebuah tamparan
Yang terus menyiksa tapi perlahan
Jalan ke surga
Pilu hati kami
Sesak nafas ini
Mendengar tangisan kalian
Diantara deru senapan
Tapi kalian tak pernah gentar
Apalagi mundur.
Peluru-peluru itu
Bagi kalian bagaikan alunan syahdu
Yang bersenandung merdu.
Seakan yahudi itu
mengantarkan kalian ke sebuah pintu
itulah pintu surga, pintu yang kau rindu
wahai saudaraku di gaza
ingin rasanya kami kesana
kita nikamati alunan itu bersama
dan perlahan kita gapai pintu surga
Sesak nafas ini
Mendengar tangisan kalian
Diantara deru senapan
Tapi kalian tak pernah gentar
Apalagi mundur.
Peluru-peluru itu
Bagi kalian bagaikan alunan syahdu
Yang bersenandung merdu.
Seakan yahudi itu
mengantarkan kalian ke sebuah pintu
itulah pintu surga, pintu yang kau rindu
wahai saudaraku di gaza
ingin rasanya kami kesana
kita nikamati alunan itu bersama
dan perlahan kita gapai pintu surga
