Malam minggu kita bertemu
Kugenggam tanganmu dan kulepas rindu
Hanya kata indah yang terucap saat itu
Engkau bagai bidadari yang menjelma dalam tidurku
Selamanya kita kan bersatu
Tak seorangpun kan mengganggu
Saat kita berpadu
Senikmat gula bila dicampur susu
Semuanya indah bukannya semu
Karena itu
Tak sedetikpun tatapanku
Melainkan hanya tertuju padamu
Diwajah sayu
Wajah yang membuatku rindu
Tuk bertemu setiap waktu
Bukan dalam mimpi,atau
Dalam lamunan
Tapi dalam kenyataan hidupku
Fitrah Cinta
Aku terlahir dari keluarga sederhana, tapi aku bersyukur dengan apa yang kumiliki, aku merasa punya segalanya. Wajah yang cantik da otak yang pintar, dimanapun menjalani pendidikan selalu mendapat peringkat yang teratas. Aku bangga akan semuanya, kadang aku merasa tak butuh yang lain dan terkadang membuatku buta dengan keadaan sekelilingku.
Aku hanya focus pada pelajaran, aku hanya ingin mewujudkan cita-citaku, seorang yang sukses dalam kehidupan. Tak jarang aku berbeda pendapat dengan teman-teman tentang pergaulan dan kehidupan remaja, mereka menagnggap masa remaja adalah masa yang terindah untuk dinikmati, tapi tidak denganku, masa remaja adalah masa untuk menanam agar bias dipetik dimasa akan datang, masa remaja masa untuk menentukan pilihan hidup, jalan mana yang akan ditempuh.
Termasuk soal cinta, dimana sorang remaja selalu membicarakan ini, tak terkecuali teman-teman sekelilingku, cinta telah menjadi pembicaraan dan perhatian mereka, masa remaja seolah-olah masa untuk memupuk rasa cinta. Lagi-lagi aku cuek dengan hal ini, walaupun kuakui dengan keadaan sekarang, banyak cowok-cowok yang melirikku, tapi mereka minder karena aku adalah bintang yang menjadi pembicaan disekolah selain itu aku tidak terlalu menghiraukan soal percintaan. Mereka berpikir sekian kali untuk mendekatiku, karena mereka tahu aku bukan seperti cewek-cewek lain yang sibuk dengan masa remajanya.
Tapi, tidak semuanya yang mundur, ada satu diantara mereka yang selalu berusaha mendekatiku dan memeberikan perhatiannya untuk mendapatkan simpatiku namanya rizki, teman kelasku. Aku tahu itu dan aku mempunyai penilaian khusus untuknya, berarti dia bukan laki-laki yang mudah menyerah dan putus asa seperti yang lainnya, tapi hanya sebatas itu penilaian seorang teman kepada temannya.
Dikelas aku selalu memperhatikan setiap pelajaran yang disampaikan, karena itulah modal utama dalam menuntut ilmu, ketika sudah memahami apa yang disampaikan dikelas akan mudah untuk memahami yang lainnya. Tapi siang itu aku agak pusing selain pelajarannya memang sulit juga karena kecapaian karena kegiatanku kemarin.
“ kenapa siska, kelihatannya lemas sekali”
Tiba-tiba suaranya membangunkanku.
“tidak apa-apa, Cuma pusing karena pelajaran tadi” jawabku seadanya.
“nanti kita pulang bareng ya, aku ingin bicara sesuatu”
“sepertinya tidak bias riz, aku pulang agak sore ada yang harus kuselesaikan sama teman, ngomong-ngomong ada apa” aku balik bertanya
” gimana ya, aku ragu kalau harus bilang sekarang” jawabnya ragu
“ nggak apa-apa, aku tidak akan marah dan akan menjadi pendengar setia” jawabku meyakinkannya.
“ sebenarnya…” dia diam sejenak seakan belum yakin dengan apa yang akan diungkapkannya.
“mungkin kamu sudah tahu selama ini aku selalu memperhatikanmu, sejujurnya aku tidak bisa membohongi perasaanku padamu. Dan mungkin ini yang bias kulakukan bahwa aku benar-benar suka kamu.”
Aku terdiam, sebenarnya aku sudah bisa menebak apa yang akan diungkapkannya. Tapi aku ingin tahu apakah dia benar-benar jujur dengan perasaannya dan bias kupastikan bahwa perkiraanku benar tentangnya.
“ sebelumnya aku minta maaf riz, untuk sekarang aku tidak ada pikiran soal itu, aku hanya focus pada pelajaran, aku takut kalau ini bisa mengaganggu pelajaranku, masih banyak yang ingin kukejar, sekali lagi aku minta maaf, aku yakin kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku”.
Suasana hening, kulihat ada rona kecewa diwajahnya, tapi aku tak ada niat untuk mempermainkannya, aku hanya konsekuen dengan pendirianku, sekolah adalah yang paling utama, dan aku akan kesampingkan setiap sesuatu yang membagi pikiranku, termasuk pacaran, ya pacaran.
Aku tidak sia-sia dengan komitmenku, aku berhasil meraih prestasi yang memuaskan, bahkan masuk perguruan tinggi melalui jalur khusus tanpa tes, itu karena nilaiku yang memuaskan dan aku bisa memilih jurusan favorit di perguruan tinggi terkemuka ditempatku. Aku puas, sebentar lagi aku akan menjadi ahli tanam-tanaman seperti yang kimpikan selama ini. Aku bisa menunjukkan pada semua orang bahwa kesungguhanku dulu telah membuahkan hasil, suatu kesempatan yang dimpi-impikan semua orang dan aku mendapatkan itu.
Dikampus, selain dalam hal akademis, aku juga aktif dalam organisasi ekstra, disni aku bisa mempraktekkan ilmu yang telah kupelajari, bagaimana berinteraksi yang baik, bagaimana menjadi komponen dari suatu masyrakat dan lain sebagainya. Disini aku juga banyak memiliki teman karena aku orangnya mudah dekat dengan siapapun termasuk dengan laki-laki, dan kebetulan disemester awal aku satu satu kepengurusan dengan rizki temanku waktu di SMA.
Ternyata dia masih punya perasaan padaku, dan untuk kedua kalinya dia mengungkapkan perasaanya padaku, tapi aku masih masih belum siap untuk menerimanya, aku belum bisa membawa orang lain masuk dalam kehidupanku, aku masih menganggap cinta pebagai penghalang kesuksesan,
Kini aku menjalani masa mudaku dengan caraku sendiri, semuanya tetap terlihat menyenangkan walaupun tanpa laki-laki dalam kehidupanku seperti kebanyakan teman-teman cewekku, aku puas kalau hasil penelitianku mendapat nilai bagus, aku merasa tentram dengan teman-teman yang ada disekelilingku, walaupun orang menganggapku egois, ego terhadap diri sendiri yang seakan-akan tidak membutuhkan orang lain, tapi itu hanya pendapat orang, bagiku siapapun boleh berpendapat dengan alasan tersendiri, bagiku yang akan membuatku senagng adalah diriku sendiri.
Aku tetap mempertahankan prinsipku ini, hingga jelaslah perbedaanku dengan orang lain, aku tidak menganggap perbedaan itu sebagai diskriminasi, tapi justru itulah kelebihanku dibandingkan orang, aku bangga bisa tampil beda, aku merasa tidak harus mengikut orang lain, dan cukup menjadi diri sendiri.
Kini diakhir-akhir kuliahku justru aku merasa ada yang kurang, aku merasa jenuh dan bosan, aku ingin suasana baru dalam kehidupanku, sebelim tidur aku selalu berfikir apa yang kurang dalam diriku, kuliah…tak mungkin, karena nilaiku semuanya bagus, teman-teman…tidak juga, mereka masih sama dengan yang dulu, lalu apa..? pikiranku tak henti-hentinya mencari titik kejenuhanku, dimanakah muara dari semua ini?!!
Hingga kokokan ayam membangunkanku dari tidur panjang yang melelahkan, hari telah berganti pagi, seperti biasa aku kekampus selalu jalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh, dalam perjalanan tak sadar aku selalu memperhatikan setiap laki-laki dan wanita yang berjalan berduaan, aku tak habis fakir, kenapa aku harus memikirkan mereka, kenapa justru dikhir-akhir kuliah, disaat butuh konsentrasi untuk menyelesaikan studi yang tinggal beberapa semester lagi ada perasaan-perasaan lain yang mulai mengganggu pikiranku.
Aku mulai sadar, aku telah menemukan muara dari segala kejenuhan ini, ternyata manusia tidak bisa lepas dari fitrahnya sendiri, manusia telah tercipta dengan kodratnya masing-masing, punya keinginan, ambisi dan hasrat. Semuanya juga ada pada diriku, tapi aku melupakan satu hal, yaitu cinta.
Ternyata cinta adalah muara dari semua itu, apa yang dilakukan teman-temanku dulu bukanlah sekadar tren anak remaja, bukan pula hanya sebagai dorongan nafsu semata, apalagi untuk melakukan sesuatu yang belum semestinya mereka lakukan. Tapi mereka hanyalah menyalurkan perasaan yang mereka miliki, rasa cinta yang ada di hati setiap manusia. Aku dulu hanya buta, tidak bisa melihat apa yang mereka rasakan, bahkan aku tidak bisa melihat apa yang ada dalam diriku sendiri, cinta yang mengalir bagaikan butiran-butiran salju yang menyejukkan hati.
Sekarang aku maru merasakannya, aku ingin cintku disemai, aku ingin mendengar ungkapan-ungkapan mesra ditelingaku, aku ingin seorang teman yang mau menampung segala isi hatiku, aku ingin seorang teman yang mau menjalani hidup ini bersamaku, aku ingin dimanja, diperhatikan, dan ada yang mengawatirkanku dikala kesusahan.
Mengapa aku baru merasakan itu sekarang, andai waktu bisa kembali, tentu akan sambut orang yang menwarkan cintanya padaku, pasti akan kutempatkan dia dalam singgasana hatiku, kusuguhi dia dengan segenap cintaku, kusejukkan dengan senyumanku, kudamaikan dengan perhatianku, aku kan menjadikannya raja dalam kehidupanku.
Tapi itu hanya angan-angan belaka yang takakan terwujud, bagaimanapun waktu takkan kembali, tapi apakah terlambat bila kumenyadarinya sekarang, bisakah kumeraskan masa-masa indah remaja, tentu tidak, waktu itu telah lewat, kini adalah babak baru, suasana baru, namun perasaan cinta pasti akan tetap ada.
Aku berusaha memulai kehidupan baru, kehidupan normal layaknya orang-orang sekelilingku, menyadari diri sendiri, dan menghilangkan rasa ego yang membelenggunya selama ini, aku mulai membuka diri, aku mulai meberi lampu hijau orang yang ingin masuk pekarangan hidupku. Aku perempuan hanya akan menunggu orang yang dating, haruskah aku sabar menunggu dalam waktu yang lama ini, atau haruskah yang berusaha masuk dalam kehidupan seorang pria yang masih dianggap aib bagi kaum wanita. Sungguh aku tak tahu harus berbuat apa, penyesalan tidak akan berubah apapun, aku seperti tanah tandus yang mengaharapkan siraman, tapi entah samapai kapan air itu akan turun, dan menyirami kegersangan hati ini.
Ternyata cinta itu memang suci, fitrah manusia, siapapun tak bisa menghindar darinya, hanya orang-orang bodoh yang menutup mata darinya atau menganggapnya sebagai kemaksiatan, lihatlah cinta itu degan jelas, nisacaya disana akan tampak suatu keindahan dan kedamaian, karena cinta itu memang suci.
Aku hanya focus pada pelajaran, aku hanya ingin mewujudkan cita-citaku, seorang yang sukses dalam kehidupan. Tak jarang aku berbeda pendapat dengan teman-teman tentang pergaulan dan kehidupan remaja, mereka menagnggap masa remaja adalah masa yang terindah untuk dinikmati, tapi tidak denganku, masa remaja adalah masa untuk menanam agar bias dipetik dimasa akan datang, masa remaja masa untuk menentukan pilihan hidup, jalan mana yang akan ditempuh.
Termasuk soal cinta, dimana sorang remaja selalu membicarakan ini, tak terkecuali teman-teman sekelilingku, cinta telah menjadi pembicaraan dan perhatian mereka, masa remaja seolah-olah masa untuk memupuk rasa cinta. Lagi-lagi aku cuek dengan hal ini, walaupun kuakui dengan keadaan sekarang, banyak cowok-cowok yang melirikku, tapi mereka minder karena aku adalah bintang yang menjadi pembicaan disekolah selain itu aku tidak terlalu menghiraukan soal percintaan. Mereka berpikir sekian kali untuk mendekatiku, karena mereka tahu aku bukan seperti cewek-cewek lain yang sibuk dengan masa remajanya.
Tapi, tidak semuanya yang mundur, ada satu diantara mereka yang selalu berusaha mendekatiku dan memeberikan perhatiannya untuk mendapatkan simpatiku namanya rizki, teman kelasku. Aku tahu itu dan aku mempunyai penilaian khusus untuknya, berarti dia bukan laki-laki yang mudah menyerah dan putus asa seperti yang lainnya, tapi hanya sebatas itu penilaian seorang teman kepada temannya.
Dikelas aku selalu memperhatikan setiap pelajaran yang disampaikan, karena itulah modal utama dalam menuntut ilmu, ketika sudah memahami apa yang disampaikan dikelas akan mudah untuk memahami yang lainnya. Tapi siang itu aku agak pusing selain pelajarannya memang sulit juga karena kecapaian karena kegiatanku kemarin.
“ kenapa siska, kelihatannya lemas sekali”
Tiba-tiba suaranya membangunkanku.
“tidak apa-apa, Cuma pusing karena pelajaran tadi” jawabku seadanya.
“nanti kita pulang bareng ya, aku ingin bicara sesuatu”
“sepertinya tidak bias riz, aku pulang agak sore ada yang harus kuselesaikan sama teman, ngomong-ngomong ada apa” aku balik bertanya
” gimana ya, aku ragu kalau harus bilang sekarang” jawabnya ragu
“ nggak apa-apa, aku tidak akan marah dan akan menjadi pendengar setia” jawabku meyakinkannya.
“ sebenarnya…” dia diam sejenak seakan belum yakin dengan apa yang akan diungkapkannya.
“mungkin kamu sudah tahu selama ini aku selalu memperhatikanmu, sejujurnya aku tidak bisa membohongi perasaanku padamu. Dan mungkin ini yang bias kulakukan bahwa aku benar-benar suka kamu.”
Aku terdiam, sebenarnya aku sudah bisa menebak apa yang akan diungkapkannya. Tapi aku ingin tahu apakah dia benar-benar jujur dengan perasaannya dan bias kupastikan bahwa perkiraanku benar tentangnya.
“ sebelumnya aku minta maaf riz, untuk sekarang aku tidak ada pikiran soal itu, aku hanya focus pada pelajaran, aku takut kalau ini bisa mengaganggu pelajaranku, masih banyak yang ingin kukejar, sekali lagi aku minta maaf, aku yakin kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku”.
Suasana hening, kulihat ada rona kecewa diwajahnya, tapi aku tak ada niat untuk mempermainkannya, aku hanya konsekuen dengan pendirianku, sekolah adalah yang paling utama, dan aku akan kesampingkan setiap sesuatu yang membagi pikiranku, termasuk pacaran, ya pacaran.
Aku tidak sia-sia dengan komitmenku, aku berhasil meraih prestasi yang memuaskan, bahkan masuk perguruan tinggi melalui jalur khusus tanpa tes, itu karena nilaiku yang memuaskan dan aku bisa memilih jurusan favorit di perguruan tinggi terkemuka ditempatku. Aku puas, sebentar lagi aku akan menjadi ahli tanam-tanaman seperti yang kimpikan selama ini. Aku bisa menunjukkan pada semua orang bahwa kesungguhanku dulu telah membuahkan hasil, suatu kesempatan yang dimpi-impikan semua orang dan aku mendapatkan itu.
Dikampus, selain dalam hal akademis, aku juga aktif dalam organisasi ekstra, disni aku bisa mempraktekkan ilmu yang telah kupelajari, bagaimana berinteraksi yang baik, bagaimana menjadi komponen dari suatu masyrakat dan lain sebagainya. Disini aku juga banyak memiliki teman karena aku orangnya mudah dekat dengan siapapun termasuk dengan laki-laki, dan kebetulan disemester awal aku satu satu kepengurusan dengan rizki temanku waktu di SMA.
Ternyata dia masih punya perasaan padaku, dan untuk kedua kalinya dia mengungkapkan perasaanya padaku, tapi aku masih masih belum siap untuk menerimanya, aku belum bisa membawa orang lain masuk dalam kehidupanku, aku masih menganggap cinta pebagai penghalang kesuksesan,
Kini aku menjalani masa mudaku dengan caraku sendiri, semuanya tetap terlihat menyenangkan walaupun tanpa laki-laki dalam kehidupanku seperti kebanyakan teman-teman cewekku, aku puas kalau hasil penelitianku mendapat nilai bagus, aku merasa tentram dengan teman-teman yang ada disekelilingku, walaupun orang menganggapku egois, ego terhadap diri sendiri yang seakan-akan tidak membutuhkan orang lain, tapi itu hanya pendapat orang, bagiku siapapun boleh berpendapat dengan alasan tersendiri, bagiku yang akan membuatku senagng adalah diriku sendiri.
Aku tetap mempertahankan prinsipku ini, hingga jelaslah perbedaanku dengan orang lain, aku tidak menganggap perbedaan itu sebagai diskriminasi, tapi justru itulah kelebihanku dibandingkan orang, aku bangga bisa tampil beda, aku merasa tidak harus mengikut orang lain, dan cukup menjadi diri sendiri.
Kini diakhir-akhir kuliahku justru aku merasa ada yang kurang, aku merasa jenuh dan bosan, aku ingin suasana baru dalam kehidupanku, sebelim tidur aku selalu berfikir apa yang kurang dalam diriku, kuliah…tak mungkin, karena nilaiku semuanya bagus, teman-teman…tidak juga, mereka masih sama dengan yang dulu, lalu apa..? pikiranku tak henti-hentinya mencari titik kejenuhanku, dimanakah muara dari semua ini?!!
Hingga kokokan ayam membangunkanku dari tidur panjang yang melelahkan, hari telah berganti pagi, seperti biasa aku kekampus selalu jalan kaki karena jaraknya tidak terlalu jauh, dalam perjalanan tak sadar aku selalu memperhatikan setiap laki-laki dan wanita yang berjalan berduaan, aku tak habis fakir, kenapa aku harus memikirkan mereka, kenapa justru dikhir-akhir kuliah, disaat butuh konsentrasi untuk menyelesaikan studi yang tinggal beberapa semester lagi ada perasaan-perasaan lain yang mulai mengganggu pikiranku.
Aku mulai sadar, aku telah menemukan muara dari segala kejenuhan ini, ternyata manusia tidak bisa lepas dari fitrahnya sendiri, manusia telah tercipta dengan kodratnya masing-masing, punya keinginan, ambisi dan hasrat. Semuanya juga ada pada diriku, tapi aku melupakan satu hal, yaitu cinta.
Ternyata cinta adalah muara dari semua itu, apa yang dilakukan teman-temanku dulu bukanlah sekadar tren anak remaja, bukan pula hanya sebagai dorongan nafsu semata, apalagi untuk melakukan sesuatu yang belum semestinya mereka lakukan. Tapi mereka hanyalah menyalurkan perasaan yang mereka miliki, rasa cinta yang ada di hati setiap manusia. Aku dulu hanya buta, tidak bisa melihat apa yang mereka rasakan, bahkan aku tidak bisa melihat apa yang ada dalam diriku sendiri, cinta yang mengalir bagaikan butiran-butiran salju yang menyejukkan hati.
Sekarang aku maru merasakannya, aku ingin cintku disemai, aku ingin mendengar ungkapan-ungkapan mesra ditelingaku, aku ingin seorang teman yang mau menampung segala isi hatiku, aku ingin seorang teman yang mau menjalani hidup ini bersamaku, aku ingin dimanja, diperhatikan, dan ada yang mengawatirkanku dikala kesusahan.
Mengapa aku baru merasakan itu sekarang, andai waktu bisa kembali, tentu akan sambut orang yang menwarkan cintanya padaku, pasti akan kutempatkan dia dalam singgasana hatiku, kusuguhi dia dengan segenap cintaku, kusejukkan dengan senyumanku, kudamaikan dengan perhatianku, aku kan menjadikannya raja dalam kehidupanku.
Tapi itu hanya angan-angan belaka yang takakan terwujud, bagaimanapun waktu takkan kembali, tapi apakah terlambat bila kumenyadarinya sekarang, bisakah kumeraskan masa-masa indah remaja, tentu tidak, waktu itu telah lewat, kini adalah babak baru, suasana baru, namun perasaan cinta pasti akan tetap ada.
Aku berusaha memulai kehidupan baru, kehidupan normal layaknya orang-orang sekelilingku, menyadari diri sendiri, dan menghilangkan rasa ego yang membelenggunya selama ini, aku mulai membuka diri, aku mulai meberi lampu hijau orang yang ingin masuk pekarangan hidupku. Aku perempuan hanya akan menunggu orang yang dating, haruskah aku sabar menunggu dalam waktu yang lama ini, atau haruskah yang berusaha masuk dalam kehidupan seorang pria yang masih dianggap aib bagi kaum wanita. Sungguh aku tak tahu harus berbuat apa, penyesalan tidak akan berubah apapun, aku seperti tanah tandus yang mengaharapkan siraman, tapi entah samapai kapan air itu akan turun, dan menyirami kegersangan hati ini.
Ternyata cinta itu memang suci, fitrah manusia, siapapun tak bisa menghindar darinya, hanya orang-orang bodoh yang menutup mata darinya atau menganggapnya sebagai kemaksiatan, lihatlah cinta itu degan jelas, nisacaya disana akan tampak suatu keindahan dan kedamaian, karena cinta itu memang suci.
